Apresiasi keberhasilan rekonsiliasi antara Kolombia dan Tentara
Gaetanista (EGC)
Ditulis oleh: Prof. Dr. Ali Muhyiddin al-Qaradaghi
Ketua Ikatan Ulama Muslim Sedunia
Kami
mengapresiasi keberhasilan rekonsiliasi antara Kolombia dan Tentara Gaetanista
(EGC), dan kami menyerukan agar model ini menjadi titik awal bagi rekonsiliasi
yang lebih komprehensif di antara seluruh komponen bangsa kami. Hal ini
khususnya krusial di dunia yang penuh gejolak dan perang, mengingat
ketidakmampuan sistem internasional untuk memenuhi tujuannya: memelihara
perdamaian dan keamanan internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagaimana
telah disebutkan, telah gagal mengubah realitas bangsa-bangsa. Dengan ketiadaan
hukum internasional dan pengabaian prinsip-prinsip kemanusiaan dan etika di
sebagian besar negara, kita melihat secercah cahaya yang terpancar dari
masyarakat bebas, yang mengungkap beberapa kegagalan moral yang melanda dunia
kontemporer kita.
Di
masa-masa sulit ini, kita menyaksikan bangsa-bangsa berjuang untuk mendamaikan
rakyat dan berpihak kepada mereka yang tertindas di mana pun mereka berada.
Iman Islam kita telah menempatkan kemanusiaan dan martabatnya sebagai prioritas
utama. Allah SWT berfirman: {Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu
Adam} (Al-Isra: 70). Islam telah menjadikan rekonsiliasi sebagai salah satu
pilar terpenting risalah Islam, bahkan prinsip agung ini diproklamasikan secara
umum: {Dan perdamaian adalah lebih baik} (An-Nisa: 128).
Adapun
reformasi menyeluruh, hal itu merupakan semboyan para nabi dan risalah mereka
kepada seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman: {Sesungguhnya aku
menghendaki perbaikan dengan kemampuanku. Dan tidaklah keberhasilanku melainkan
dengan pertolongan Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nyalah
aku kembali} (Hud: 88).
Dari
perspektif Islam, kemanusiaan, dan etika ini, kami mengapresiasi upaya mulia
Negara Qatar dalam mencapai rekonsiliasi di negara Islam kami dan di dunia yang
lebih luas, sebagaimana dicontohkan oleh keberhasilan mediasinya untuk mencapai
perdamaian antara pemerintah Kolombia dan Tentara Gaetanista (EGC). Semoga
Tuhan memberkahi Negara Qatar dengan limpah dan memberkati upayanya.
Pada
kesempatan ini, kami menyerukan kepada Negara Qatar dan seluruh negara Arab dan
Islam untuk mengerahkan upaya maksimal mereka guna mencapai rekonsiliasi yang
komprehensif di negara kami. Perselisihan, perpecahan, dan konflik telah
mencapai titik kritis, tidak hanya di tingkat pemerintahan tetapi juga antara
pemerintah dan rakyatnya, bahkan di antara kelompok-kelompok Islam itu sendiri,
dan bahkan di antara para pendakwah dan ulama.
Kondisi
bangsa kami sangat memprihatinkan. Negara ini telah mencapai titik kelemahan,
kehinaan, kegagalan, dan ketidakmampuan untuk secara efektif menghadapi proyek
pendudukan Zionis, sebagaimana telah kita saksikan di Gaza, Tepi Barat,
Lebanon, dan Suriah. Yang lebih berbahaya lagi adalah proyeknya yang menyasar
Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam dan tempat terjadinya Perjalanan
Malam Nabi Muhammad (saw). Isu ini tidak lagi menyatukan beragam anggota bangsa
sebagaimana mestinya. Kelemahan, kegagalan, dan ketidakberdayaan ini merupakan
konsekuensi alami dari perselisihan, fragmentasi, dan perpecahan yang hebat
ini. Oleh karena itu, saya mohon kepada Anda, demi Allah SWT.
Wahai umat
kami yang tulus—para pemimpin, pemerintah, ulama, pemikir, dan partai
politik—untuk bangkit mengemban tugas rekonsiliasi dan reformasi, serta
menyatukan bangsa di atas prinsip-prinsip fundamental dan nilai-nilai bersama.
Sebelumnya
saya menyerukan persatuan sejati, kemudian persatuan riil seperti Eropa, dan
hari ini saya menyerukan rekonsiliasi, reformasi, dan penghapusan perselisihan
dan perpecahan. Allah adalah penolong kita, dan kepada-Nyalah kita bersandar.
ـــــــــــــــــــــــــــ
* للاطلاع على الترجمة الكاملة للخبر باللغة
العربية، اضغط (هنا).